Kesialan tak Memudarkanku

Oleh : Mahardika Budiansyah

Kukuruyuk…! Kukuruyuk…! Ayam jago berkokok. Hawa dingin yang menyelimutiku membuat aku terbangun. Mimpi hororku kuselesaikan pagi itu juga. Merinding, seperti kehidupan nyata yang tatkala sama menakutkan.

Dengan segenap tenaga yang mulai dikumpulkan di tubuhku. Aku mulai berdiri, berjalan perlahan-lahan ke arah gorden jendela kamarku. Kubuka gorden itu. Cahaya matahari perlahan-lahan menerangi ruang kamar tidurku. Harum bunga melati yang mekar di pagi hari menyejukan suasana di hatiku. Burung-burung terbang kesana kemari mencari makan. Aku termenung memandang langit biru berbaur dengan cahaya kuning dari matahari. Sepintas pikiran pun datang, mengingatkanku pada hari ini. Kuingat hari ini hari sabtu. Sekarang kuingat betul, hari ini band favoritku tampil. Wow, tak disangka-sangka, memang ini nyata. Aku pun bersiap-siap.

”Bu, sarapannya mana?” tanyaku.

”Bentar Rud, Ibu masih masak. Kamu ngobrol aja tuh sama Ayahmu.”

”Cepat Bu… Rudi, tidak mau telat!”

”Hust…! Rudi! Sabarlah sebentar, Ibumu itu sedang masak makanan

kesukaanmu,” seru ayah.

”Iya Yah. Tapi, Rudi ingin segera berangkat.”

”Kamu tidak mengerjkan PR lagi ya?” tanya ayah.

”Ya enggaklah Yah, hari ini ada pensi di sekolahku.”

”Seru tuh, Rud?” tanya ayah.

Ibupun datang menghampiri aku dan ayah.

”Kok asyik benar ngobrolnya? Ini sarapan dulu, Rud,” ujar ibu.

”Wah, telur asin…”

Selesai makan pun aku langsung pamit ke ayah dan ibu, tak lupa aku berdoa semoga hari ini diberi kelancaran.

Aku menuju garasi sebelah rumahku. Terpampang sepeda motor kesayanganku, yaitu honda beat berwarna merah dengan sock berwarna putih dan ban dengan velg emas yang berdekatan dengan sepeda motor ayahku. Aku pun menstater sepeda motor. Sebelum berangkat aku melirik ke jam tanganku. Jarum jam menunjukan 06.37. Tanpa berpikir panjang aku berangkat.

Dengan kecepatan yang standar. Dug…! Tiba-tiba stang yang aku kendaraain hampir tidak dapat aku kendalikan. Citt…! Aku mengerem mendadak. Hampir saja aku jatuh, batinku. Aku cemas dan bingung, apa itu?

”Astagfirullah, apa yang Aku tabrak?” tanyaku.

”Dik, anda tidak kenapa-kenapa? Adik baru saja menabrak kucing yang lewat. Itu dik bangkainya,” ujar salah satu warga sekitar.

”Gak apa kok pak, Saya cuma kaget.”

”Ya sudah dik, mending Adik berangkat sekolah, lain kali hati-hati kalau bersepeda motor. Sekarang biar bapak yang bersihkan bangkai kucing itu.”

”Makasih pak. Assalamu’alaikum.”

”Wa’alaikumsalam. Hati-hati ya dik!”

Aku mulai sedikit tenang. Kulirik jam tangan. Jam 07.46. Perasaanku semakin gundah, walaupun jam 07.30 pensi dimulai, tapi pintu gerbang ditutup seperti biasa. Aku melanjutkan perjalanan menuju sekolah.

Di tengah perjalanan, Aku melihat temanku berhenti dan sedang kebingungan. Aku pun menghampirinya.

”Hai Temon, ada apa? Kenapa itu sepeda motormu?” tanyaku ke temanku.

”Wah, untung aja ada kamu, Rud. Ini motorku sulit sekali distater, kayaknya ada yang salah dengan akinya” ujar Temon.

”Duh, Mon, mon. Sudah kamu bonceng aku aja. Sepeda motornya biar ditiitp di bengkel itu.”

”Oh ya tuh, dekat dari sini bengkelnya. Ayo Rud segera berangkat!” seru Temon.

Duh, telat gak nih? Batinku.

Kemudian aku langsung bernagkat. Di perempatan jalan raya. Aku terjebak macet yang cukup panjang. Mobil dan motor perlahan-lahan lolos dari jebakan macet itu. Aku menyelip pelan-pelan mobil-mobil, truk yang terjebak macet di samping kanan-kiriku. Tak lama kemudian Aku dapat lolos, walaupun memakan waktu.

”Agak cepat sedikit Rud!”

Aku mulai menaikan kecepatan. Suasana semakin mencekam ketika aku berhenti mendadak karena kehabisan bahan bakar bensin, padahal tinggal sedikit lagi sampai sekolahan. Memang sial itu tak jauh dari kehidupan hororku. Tanpa pikir panjang aku bersama Temon menuntun sepeda motorku. Ketika tiba di sekolahan, Aku dan Temon terlambat 6 menit.

”Pak Tong, buka dong gerbangnya,” sahutku.

”Wah, Rud, Mon. Kok bisa telat?” tanya Pak Tong satpam sekolah.

”Kena sial pak!” seru Temon.

”Ah, gak percaya, Mon? Ya sudah, masuk sana ke ruang BK!” sahut Pak Tong.

Aku dan Temon masuk ke ruang BK. Ruangan yang sejuk, sunyi, gelap karena jendela yang dibuat satu arah pandang. Di sana Aku hanya terdiam mendengar ceramah guru BK.

Tak lama di sana, kami berdua keluar, ternyata pensi akhir tahun sudah di mulai 15 menit yang lalu.

Kami berdua bergegas ke lapangan sepak bola di mana pensi itu dilaksanakan. Suasana di sana sangat meriah. Panggung yang lebar, alunan musik yang berwarna-warni, Keramaian siswa sekolahku yang mengelilingi panggung itu.

Aku dan Temon pun menyelempit ke arah depan panggung. Suasana semakin seru, padat, dan panas ternyata, di depan panggung.

”Hai Bob, kapan Blink 182 tampil?” tanyaku ke Bobby.

”Hai Rud, dari mana saja kau? Blink 182 tampil jam 10.15 kalau kagak sesudahnya teater. Kau harus nonton, Rud. Lihat nih Rud, Aku sudah mempersiapkan kaos blink 182 untuk ditanda tangani nanti,” ujar Bobby.

”Kena sial Bob. Bagus juga tuh kaos, nih punyaku rompi merah dengan logo blink 182.”

”Ayo lanjutkan jogetnya,”  seru Temon.

”Lanjutkan!” seru Bobby.

Waktu demi waktu aku joget untuk mengiringi lagu itu. Semangatlah yang mebuat aku bertahan bersabar.

Hampir tiba pukul 10.10. Tiba-tiba awan hitam perlahan-lahan mendekat ke area pensi. Suara gemuruh mulai terdengar di telingaku. Suasana semakin tidak terkendali, para penonton mulai berhamburan ke area yang lebih teduh. Suara rintikan hujan terdengar. Titik-titik air yang pertama hanya sedikit, berubah menjadi rintikan hujan yang lebat, dan deras. Angin pun ikut bergabung dalam suasana itu, membuat badai yang cukup lama. Gemuruh pun tak ketinggalan.

Aku termenung memandang alam yang tidak bershabat dengan situasi ini, Kekecewaanku membuat aku berkomentar kotor kepada alam. Memang seperti orang gila tapi itulah perasaanku.

Aku duduk di kelas di temani Temon, Bobby, dan teman-teman yang lain. Tidak banyak yang kami lakukan di kelas. Kami hanya gitaran dan bernyanyi bersama.

”Hai guys, ayo nyanyi bersama,” ujar Santi.

”Ayo Rud, sambil menunggu hujan ini reda. Bob, ambil gitar tuh di sana!” seru Temon.

”Siap bro,”

”Come on guys. Playing All the Small things. Oke, lets go to play!” kata Tata.

”All the small things, true care, truth brings…”

          ”Say it ain’t so, I will not go. Turn the lights off, carry me home. Na na na na…”  bernyanyi bersama.

Tak sengaja nyanyi kami didengar oleh guru seni musik kami. Ia berjalan menghampiri kami.

”Wow, lagu kalian bagus sekali. Cocok kali ya untuk tampil?” tanya Bu Tari.

”Makasih bu. Lagu ini hanya untuk memberi semangat kami kok,” sahutku

”Hmm… Ternyata banyak juga ya penggemar blink 182?” tanya Bu Tari lagi.

”Pastinya kok bu, lagunya memberi makna tersendiri bagi kami,” ujar Tata dan Santi.

Tak terasa menyanyi cukup lama dan asyik mengobrol dengan Bu Tari, hujan pun mereda, suara mik speaker mulai terdengar. Kulirik jam dinding yang menggantung di tembok bagian atas kelas. Jarum jam menunjukkan jam 13.17. Aku berharap band favoritku dapat tampil. Suara mik speaker terdengar lagi. Aku dan teman-teman langsung keluar kelas.

”Oke friends, ayo lanjutkan pensi ini! Sekarang giliran PT Suffle dance untuk tampil. Berikan tepuk tangan meriah untuk PT Suffle dance…!” Teriak Ketua OSIS.

”Yeah…!”

Teriakan penonton kembali memeriahkan suasana. Walaupun rumput-rumput yang masih basah karena hujan tadi, tapi tidak memudarkan  semangat penonton termasuk aku.

Cahaya matahari mulai menerangi panggung itu kembali. Suasana dingin, seketika berubah menjadi panas. Alunan lagu suffle terdengar keras dan juga pemain bakat suffle mulai mengeluarkan keahliannya. Tiba-tiba, musik berhenti mendadak. Semua orang mulai kebingungan. Ternyata musik audio dimatikan oleh penyewa audionya.

”Maaf Adik-adik. Masa sewa sudah habis dari jam 01.30 tadi, tapi sekarang sudah jam berapa? Sekarang sudah lebih 15 menit!” seru penyewa audio.

Penonton pun makin kecewa, termasuk aku. Mengapa pensi tahun ini berantakan sekali? Batinku. Aku pun tidak terima dengan semacam hal ini. Aku mulai berfikir untuk mengumpulkan sumbangan uang lagi, untuk memperpanjang kontrak dengan penyewa audio.

Sedikit demi sedikit uang aku mulai kumpulkan. Uang ini aku peroleh dari teman-teman yang berpartisipasi untuk melanjutkan acara ini. Setelah terkumpul cukup banyak, tanpa pikir panjang aku kirim lewat OSIS.

Rapat dengan penyewa audio pun dimulai di ruang tertutup.

Ketika rapat sedang di jalankan. Temon, memimpin untuk membuat demontrasi besar-besaran agar penyewa audio mau memberikan kesempatan kedua.

”Ayo guys, keraskan suara kalian!” seru Temon.

”lanjutkan pensinya…! lanjutkan pensinya…!”

Suara demonstran menggerumuh. Kepadatan terjadi di satu titik di depan ruang rapat. Aku mulai menggeleng-geleng, tapi aku harus tetap berfikir positif. Kulirik kembali jam tanganku. Jam menunjukan 14.01.

Tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka.

”Woy friends, acara di lanjutkan…!” seru Ketua OSIS.

Seluruh siswa bersorak riang. Semua kembali ke panggung pensi. Lagu-lagu dangdut di mainkan oleh para penyanyi. Desakan-desakan dan senggol-senggol terjadi.

”Kapan ini blink 182?” tanyaku.

”Iya Rud, harus bersabar terus nih,” jawab Bobby dan Temon.

Lagu regge pun di mainkan setelah lagu dangdut. Dan setelah itu, hardcore, rock, dan lagu India di tampilkan semua, hingga istirahat 15 menit datang.

”Rud, makan dulu yuk, mumupung masih istirahat nih,” sahut Tata.

”Ayo Rud!” seru  Bobby.

”Oke guys.”

Di tempat warung makan mba Atik kami singgahi. Di sana kami hanya memesan mie ayam dan es jeruk. Ya lumayan, untuk mengisi perut kami yang kosong.

Ketika kami menikmati makanan kami, yang sudah disajikan. Muncul ketua OSIS sedang membeli minuman.

”Setelah ini apa yang ditampilkan, bro? kapan blink 182nya nih?” tanyaku.

”Oh, kamu Rud. Setelah ini teater, penutupannya blinks 182 bro,” jawab Ketua OSIS.

”Sekarang ini sudah jam 15.57. Sudah mepet!” seruku

”Itulah yang jadi pertimbangan kami. Apa taeter dulu atau band blinks 182? Tapi kami memutuskan untuk teater. Jangan kecewa dulu ya guys.”

”Oke…!” seru kami

Setelah mengatasi masalah perut kami, kami kembali ke tempat pensi. Teater adalah acara selanjutnya. Teater yang diadakan oleh OSIS memang seru. Gaun yang dipakai oleh si pemeran memang seperti bajak laut karena tema teater itu Pirates of Carribean. Cara megeluarkan suara persis dengan adegan yang asli. Penonton pun terhibur, termasuk kami-kami yang menyaksikan.

”Dapat bintang lima lah tetaer ini dari kami,” ujar kami berlima.

Karena terhibur banget dengan teater itu. Tak terasa waktu semakin sore. Teater pun selesai. Penutupan di mulai. Band yang ditunggu oleh kami telah dihadapan kami. Semua menyaksikan dengan senang hati.

Band blink 182 adalah band zaman dahulu yang sukses dari tahun 1999-2004. Lagu-lagu yang mereka tampilkan adalah pop punk. Walaupun mereka dari negeri asing, kami tetap suka dengan lagu-lagu mereka terutama All the Small Things dan I Miss You. Band blink 182 itu beranggota trio yaitu Mark Hoppus sebagai vocal dan bass, Tom DeLonge sebagai vocal dan gitar, dan tak lupa Travis Barker sebagai drum.

Sekarang mereka tampil dipensi yang diadakan di sekolah kami.

”Na…na…na…na…!”

Terdengar semua menyanyikan lagu All the Small Things.

Setelah seru-seruan dengan lagu All the Small Things. Lagu yang kedua adalah I Miss You. Memang merupakan lagu penutup yang indah.

Semua Penonton mengangkat tangan mereka ke atas. Melambangakan perpisahan untuk terakhir kalinya.

Setelah lagu itu selesai. Ketua OSIS, menutup acara pensi tahun ini. Semua bertepuk tangan atas kelancaran hari ini.

Tak lupa aku dan Bobby ingin meminta tanda tangan dari band blink 182.

”Hai Mark, it may ask for a signature? I was already prepared vest,” tanyaku.      ”Sorry guys, we can’t. The plane was about to leave us a message, we have to get there fast,” kata Mark Hoppus.

”Could not a little bit? Please.”

I’m sorry. We have to go. May we meet again. Bye friend.”

Dengan rasa kecewa, aku kembali ke kelas.

”Bagaimana, Rud? Dapatkah tanda tangan blink 182?” tanya Temon.

”Hmm… tidak dapat guys,” ujarku.

Semua menjadi sepi. Tetapi, lama-lama suasana yang sepi itu berubah.

Di sana aku disemangati oleh teman-temanku. Biarkan yang berlalu, masih ada hari esok, mungkin juga tahun depan. Dan jangan kecewa, di sini masih ada kami yang menyemangatiku.

”Love you, friends” kataku sambil mengusap air mata.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s